Kerajaan Majapahit

Ulas Tuntas Sejarah, Peninggalan dan Letak Kerajaan Majapahit

KERAJAAN MAJAPAHIT merupakan kerajaan yang memiliki pusat pemerintahan di Jawa Timur, Indonesia yang awal berdiri kira-kira pada tahun 1293 sampai 1550. Kerajaan ini pada puncak kekuasaannya menjadi salah satu kemaharajaan raya yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas di Nusantara pada saat masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang bertahta dari tahun 1350 sampai 1389.

Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit
urusandunia.com

Kerajaan Majapahit ini adalah kerajaan Hindu-Budha paling akhir yang menguasai Nusantara dan menurut Negarakertagama Kerajaan Majapahit diyakini sebagai salah satu negara kekuasaan terbesar dalam sejarah Nusantara. Kekuasaan Majapahit terbentang di wilayah Jawa, Sumatra, Kalimantan, Semenanjung, Malaya sampai mencakup Indonesia Timur, walaupun wilayah kekuasaan ini masih diperdebatkan.

Hanya terdapat bukti sedikit fisik sisa-sisa dari Kerajaan Majapahit, dan sejarahnya masih tidak jelas. Sumber utama yang dipakai oleh para sejarahwan ialah Pararaton (Kotab raja-raja) dalam bahasa Negarakertagama dan Kawai yang berbahasa Jawa Kuno.

Pararaton Paling utama menceritakan tentang Ken Arok (pendiri sebuah Kerajaan Singhasari) namun juga berisi beberapa bagian pendek mengenai kisah terbentuknya Majapahit.

Sementara itu, mengenai Nagarakertagama merupakan puisi Jawa Kuno yang dibuat  atau ditulis pada masa kejayaan Majapahit di bawah kekuasaan Hayam Wuruk. Sesudah masa itu, hal yang terjadi masih tidak jelas. Dan juga terdapat beberapa prasasti atau peninggalan dalam bahasa Jawa Kuno atau catatan sejarah dari Tiongkok dan juga negara-negara yang lainnya.

Sejarah Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit
baabun.com

Pada masa terjadi serangan Jayakatwa, Raden Wijaya bertugas untuk menghadang dibagian utara, ternyata serangan yang paling besar malah diterjang dari arah selatan. Maka ketika Raden Wijaya pulang ke Istana, ia melihat bangunan Kerajaan Singasari hampir sirnah ditelan kobaran api dan terdengar bahwa Kertanegara sudah terbunuh juga pembesar-pembesar yang lainnya.

Akhirnya Raden Wijaya melarikan diri bersama dengan tentara yang masih tersisa dan dibantu oleh penduduk desa Kugagu. Setelah dirasa aman, sang raden pergi ke Madura meminta perlindungan ke Aeyawiraraja. Karena bantuannya ia berhasil menempati tahta, dengan memberikan hadiah daerah tarik untuk Raden Wijaya sebagai wilayah kekuasaannya.

Ketika tentara Mongol hadir ke Jawa dengan pimpinannya Shih-Pi, Kau Shing dan Ike-Mise dengan tujuan untuk memberi hukuman terhadap Kertanegara, maka Raden Wijaya pun memanfaatkan situasi ini agar bekerja sama untuk menyerang Jayakatwang.

Pengusuran Tentara Mongol

Setelah terbunuhnya Jayakatwang, tentara mongol berpesta ria untuk merayakan kemenangannya itu. Kesempatan itu juga tidak disia-siakan oleh Raden Wijaya untuk balik melawan para Tentara Mongol, sehingga Tentara Mongol menjadikan terusir dari tanah Jawa dan pulang ke negrinya semula. Maka pada tahun 1293 Raden Wijaya naik tahta dan diberi gelar Sri Kartajasa Jayawhardana.

Arca Harihara merupakan dewa gabungan Wisnu dan Siwa sebagai penggambaran Kartarajasa. Bertempat semual di Candi Simping, Blitar, sekarang menjadi koleksi Musium Nasional Indonesia. Sebelum majapahit berdiri, Singashari merupakan kerajaan terkuat di tanah Jawa.

Hal ini menjadi sorotan Kubilai Khan sebagai penguasa Dinasti Yuan Dari Tiongkok. Ia mengirimkan utusan dengan nama Meng Chi ke Singhasari untuk menuntut upeti. Kertanegara sebagai penguasa Kerajaan Singashari terakhir menolak untuk menyerahkan atau membayar upeti dan membuat malu utusan tersebut dengan memotong telinganya dan merusak wajahnya.

Atas kejadian itu Kubilai Khan marah dan langsung memberangkatkan ekpedisi besar ke tanah Jawa pada tahun 1293. Ketika itu adipati kediri, Jayakatwang sudah melengserkan dan membunuh Ketanegara. Atas saran dari Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan ampun terhadap Raden Wijaya, menuntut agar Kertanegara datang menyarahkan diri.

Lalu Wiraraja mengirim seorang utusan ke Daha dengan membawa surat dengan isi pernyataan bahwa Raden Wijaya menyerah dan mau mengabdi untuk Jayakatwan. Kedatangan surat itupun disambut dengan senang hati dan kemudian Raden Wijaya pun diberi hutan tarik.

Ia membuka hutan itu lalu membangun pedesaan baru dengan nama Majapahit, yang mana nama itu diambil dari buah maja dengan rasanya yang pahit. Ketika pasukan Mongol datang, Raden Wijaya bersekutu bersama pasukan Mongol utnuk melawan kerajaan Jayakatwang.

Setelah sukses meruntuhkan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menyarang pasukan Mongol sehingga pasukan Mongol terpaksa menarik pulang pasukannya dengan kalang-kabut. Waktu itu juga sebagai kesempatan yang terakhir pasukan Mongol untuk menangkap angin muso supaya bisa pulang, atau terpaksa mereka harus menuggu enam bulan lamanya hidup di pulau yang asing.

Tanggal Kelahiran Majapahit

Tanggal pasti yang dipakai untuk tanggal kelahiran Kerajaan Majapahit ialah hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tepat pada tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang bersamaan dengan tanggal 10 November tahun 1293. Ia diberi gelar dengan nama Kertarajasa Jayawardhana.

Kerajaan ini sedang menghadapi masalah, yang mana beberapa orang kepercayaan Kertarajasa termasuknya Ranggalawe, Nambi dan Sora memberontak untuk melawannya meskipun pada akhirnya pemberontakan itu tidak berhasil. Pemberontakan yang dilakukan Ranggalawe ini didukung oleh Ra Arya Saidi, Panji Maharaja, Ra Jaran Waha, Ra Tosan, Ra Lintang, Ra Tati dan Ra Gelatik.

Semua nama yang disebutkan itu tertulis dalam Pararaton. Slamet Muljana menduga bahwa yang melakukan konspirasi untuk menjatuhkan semua orang kepercayaan raja ialah Mahapati Halayudha agar ia bisa menduduki posisi tertinggi pada pemerintahan. Namun setelah pemberontak terakhir (Kuti) mati, Halayudha ditangkap dan dipenjara lalu dihukum mati. Raden Wijaya meninggal dunia tahun 1309.

Putra dan juga sebagai penerus Wijaya ialah Jayanegara. Pararaton memberikan sebutan Kala Gemet, yang artinya “Penjahat Lemah”. Perkiraan pada waktu pemerintahan Jayanegara, Odrico da Pordenone seorang pendeta dari Italia mengunjugi Keraton Majapahit di Jawa.

Pada tahun 1328 Jayanegara terbunuh oleh tabibnya , Tanca. Gayatri Rajapatni sebagai ibutirinya yang seharusnya menggantikannya, namun Rajapatni memilih untuk mengundurkan diri dari lingkup istana dan menjadi Bikshuni. Rajapatni pun menunjuk anak perempuannya Tribhuwana agar menjadi ratu Majapahit.

Di tahun 1336 Gajah Mada ditunjuk oleh Tribhuana untuk mejadi Mahapati dan pada saat pelantikannya,Gajah Mada mengikrarkan sumpah Palapa yang memberitahukan akan rencananya untuk meluaskan kekuasaan Majapahit dan membangun Kemaharajaan.

Selama kekuasaan di pimpin oleh Tribhuana, Kerajaan Majapahit berkembang lebih besar dan lebih terkenal di kepulauan Nusantara. Tribhuana menduduki tahtanya di Majapahit hingga kematian ibunya tahun 1350. Ia diturunkan oleh putranya yaitu Hayam Wuruk.

Pendiri Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit

Dalam sejarah Indonesia kita mengatahui bahwa di Pulau Jawa ini dulu pernah berkuasa beberapa kerajaan kuno yang memiliki kekuasaan yang cukup besar. Salah satunya ialah Kerajaan Majapahit. Yang mana pusat kotanya berada pada Trowulan dan bekas sisa-sisa reruntuhan ibukota tersebut masih kita jumpai sampai saat ini.

Kerajaan Majapahit merupakan sebuah kerajaan Hindu Indonesia yang sukses mempersatukan hampir keseluruhan wilayah Nusantara sekarang ini. Pengaruh kekuasaan dari kerajaan ini sangat luas, bahkan samapi juga di negara-negara tetangga di wilayah Asia.

Awal Berdirinya Kerajaan Majapahit

Berdirinya kerajaan Majapahit diawali dari runtuhya Kerajaan Singasari yang diakibatkan serangan prajurit Jayakatwang asal kediri tahun 1292. Dalam perang itu Jayakatwang bisa menyerang sampai dalam kraton dan membunuh Raja Kartanagara, sehingga kekuasaan Singasari berakhir.

Raden Wijaya, sebagai menantu Kartanegara, dengan beberapa prajuritnya mengungsi ke Madura untuk memohon bantuan kepada Wiraraja, adipati Sumenep. Raja Wijaya dan pengikutnya diterima dengan baik oleh Wiraraja. Atas nasihat dari Wiraraja, Raden Wijaya kemudian menyerahkan diri kepada Jayakatwang dan dia mengabdi di Kediri.

Raden Wijaya pun slalu menunjukkan sikap setiannya terhadap Jayakarta, sehingga memperoleh keparcayaan dai Jayakatwang. Lalau Raden Wijaya memohon agar hutan Tarik dibuka, dengan alasan untuk memudahkan berburu. Jayakatwang memang gemar memburu.

Proses penebangan hutan Tarik ini dilakukan dengan dibantu orang-orang madura yang dikirim oleh Wirajaja. Dan tempat baru ini dinamakan dengan nama Majapahit. Mengingat tempatnya yang strategis, dan juga tidak begitu jauh dari sungai Brantas, maka banyak penduduk yang tertarik untuk datang dan menetap di sana.

Orang-orang Madura yang membantu saat bekerja membuka hutan juga ikut memetap di desa itu. Sehingga di dalam waktu yang singkat, desa baru itu langsung menjadi desa yang ramai.

Sejarah Nama Majapahit

Mengenai nama Majapahit itu dalam kitab Pararaton dijelaskan bahwa pada waktu itu para orang madura yang bekerja pembukaan hutan, diantara mereka merasa lapar, kemudian ia masuk kedalam hutan dan memakan buah maja. Tapi dikarenakan rasanya pahit maka buah maja itu langsung dibuang. Dari kejadian itu, maka desa baru itu diberi nama Majapahit yang arti singkatnya adalah buah maja yang memiliki rasa yang pahit.

Di desa Majapahit, Raden Wijaya mulai mengumpulkan kekuatan serta menyusun persiapan untuk memerangi kekuasaan Raja Jayakatwang. Sementara itu hubungan terselubung dengan Wiraraja tetap berjalan, untuk menentukan siasat penyerangan. Wiraraja yang berada di Madura  sendiri semabari mempersiapkan sejumlah tentara untuk diwaktu yang tepat akan dikirim ke Majapahit untuk membantu penyerangan ke Kediri.

Setelah Raja Wijaya berahasil mengumpulkan kekuatan para bala tentaranya yang dibantu juga oleh Wiraraja dan tentara Tartar yang bernaitan menghukum Raja Jayakatwang, langsung menyerang kerajaan Raja Jayakatwang yang berletak di Kediri dan akhirnya kemenangan berpihak pada Raja Wijaya.

Dengan kemenangannya itu, Raja Wijaya mulai mengatur dan menyusun tata pemerintahan Majapahit. Seluruh pengikut setiannya dan berjasa dalam memperjuangkan kejayaan Majapahit diangkat untuk menduduki berbagai jabatan pemerintaha.

Jasa Wiraraja yang besar dalam memperjuangkan berdirinya Kerajaan Majapahit diberi kedudukan yang tinggi dan diberikannya juga kekuasaan untuk daerah sebelah timur Majapahit yaitu meliputi daerah Lumajang hingga derah Blambangan.

Raden Wijaya berhasil membuat pemerintahan yang cukup kuat dan juga stabil yang memungkinkan kerajaan ini unutk terus berkembang. Pada tahun 1309 pendiri Kerajaan Majapahit (Raden Wijaya) ini meniggal dunia dan didharmakan di dalam candi Siwa di Simping (Candi Sumberjati).

Silsilah Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit
radikagilang.blogspot.co.id

Dalam prasasti Balawai pada tahun 1305, Raja Wijaya menyatakan bahwa dirinya sebagai anggota Wangsarajasa. Menurut Negarakrtagama, Wijaya merupakan putra dari Dyah Lembu Tai, Putra Narasinghamurti. Menurut Pararaton Narasinghamurti atau Mahisa Campaka ialah putra dari Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok sebagai pendiri Wangsa Rajasa.

Menurut prasasti Nagarakrtagama dan Balawai, Raden Wijaya menikahi empat orang putri Kertagama (raja terakhir dari Kerajaan Singhasari) yaitu Tribhuwaneswari, Jayendradewi, Narendraduhita, dan Gayatri.

Sedangkan menurut Pararaton, Raden Wijaya hanya menikahi dua orang dari putri Kertanegara dan seorang putri dari kerajaan Malayu dengan nama Dara Petak, ialah salah satu dari dua putri yang kembali dibawa dari Melayu oleh sebuah pasukan yang dulunya dikirim oleh Raja Kertanegara yang pada waktu itu dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayupada di masa kerajaan Singhasari.

Dara Petak ialah salah seorangputri dari Srimat Tribhuwanara Mauliwarmadewa seorang Raja Melayu dari Kerajaan Dharmasraya. Menurut Prasasti Balawai dan Sukamerta, Raden Wijaya memiliki seorang putra dari Tribhuwaneswari yang diberi nama Jayanagara.

Sedangkan menurut Pararaton Jayanagara ialah putra dari Dara Petak, dan menurut Nagarakrtagama, Jayanegara merupakan putra dari Indreswari. Sementara itu lahir dua orang putri dari Gayatri yang diberi nama Dyah Gitarja dan Dyah Wiyata.

Namun ada pendapat yang lain juga, yang mana Raden Wijaya juga mengambil Dara Jingga yang merupakan seorang putri dari kerajaan Melayu yang dijadikan sebagai istrinya selain Dara Petak, karena dara Jingga juga tiketahui memiliki julukan sira alaki dewa (dia yang dinikahi oleh  seseorang yang memiliki gelar gewa).

Nama-nama Raja Majapahit

Kerajaan Majapahit
idsejarah.net

Berikut ini adalah daftar penguasa Kerajaan Majapahit. Perhatikan bahwa ada periode kekosongan diantara pemerintahan Rajasawardhana (penguasa ke-8) dan Girishawardhana yang bisa jadi diakibatkan oleh krisis yang membuat pecah keluarga Kerajaan Majapahit menjadi dua kelompok.

  1. Raden Wijaya dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana, pada tahun kekuasaan 1293 sampai 1309
  2. Kalagamet dengan gelar Sri Jayanagara pada tahun kekuasaan 1309 sampai 1328.
  3. Sri Gitarja dengan gelar Tribhuwana Wijayatunggadewi, pada tahun kekuasaan 1328 sampai 1350
  4. Hayam Wuruk dengan gelar Sri Rajasanagara, pada tahun kekuasaan 1350 sampai 1389
  5. Wikramawardhana, pada tahun kekuasaan 1389 sampai 1429
  6. Suhita, pada tahun kekuasaan 1429 sampai 1447
  7. Kertawijaya dengan gelar Brawijaya I, pada tahun kekuasaan 1447 sampai 1451
  8. Rajasawardhana dengan gelar Brawijaya II, pada tahun kekuasaan 1451 sampai 1453
  9. Purwawisesa atau Girishawardhana dengan gelar Brawijaya III, pada tahun kekuasaan 1456 sampai 1466
  10. Pandanalas atau Suraprabhawa dengan gelar Brawijaya IV, pada tahun kekuasaan 1466 sampai 1468
  11. Kertabumi dengan gelar Brawijaya V, pada tahun kekuasaan 1468 sampai 1478
  12. Girindrawardhana dengan gelar Brawijaya VI, pada tahun kekuasaan 1478 sampai 1498
  13. Hudhara dengan gelar Brawijaya VII, pada tahun kekuasaan 1498 sampai 1518

Letak Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit
id.wikipedia.org

Majapahit merupakan Kerajaan yang didirikan di awal tahun 1293 dan mempunyai masa kejayaan yang lama pada masing-masing pemerintahannya. Selama hampir 2 abad Kerajaan Majapahit membangun kerajaannya dan membawa harum nama  nusantara.

Letak Kerajaan Majapahit dijakini berada pada wilayah Kec. Trowulan Kab. Mojokerto, Kediri dan Jombang. Seperti halnya pada umumnya sebuah kerajaan, Majapahit juga mempunyai ibukota dan ibukota dari Kerajaan Majapahit sendiri sudah berpindah tampat sebanyak 3 kali. Ketiga-tiganya terjadi di masa kekuasaan yang berbeda-beda, diantaranya:

1. Pada Masa Pemerintahan Raja Wijaya

Pada masa pemerintahan Raden Wijaya, letak ibukota Kerajaan Majapahit berada di wilayah pelabuhan Canggu – Mojokerto. Lebih tepatnya lagi yaitu disebut delta dari sebuah bengawan. Istana Kerajaan Majapahit pada masa ini terletak menghadap arah bengawan tersebut, sehingga istana ini mempunyai pemandangan yang sangat cantik.

2. Pada Masa Pemerintahan Jayanegara

Pada masa pemerintahan Jayanegara di tahun 1305 sampai 1478 masehi, pusat pemerintahan Majapahit  berada di wilayah pedesaan Trowulan, yang mana desa ini berada di perbatasan antara kota Mojokerto dan Jombang.

3. Pada Masa Pemerintahan Dinasti Girindrawardhana.

Pada masa pemerintahan Girindrawardhana di tahun 1478 masehi dan berakhir pada 1519, dimulai dari kekuasaan Bhre Hyang Purwawisesa ketika Dyah Rana Wijaya turun tahta, Ibukota Kerajaan Majapahit ini bereada di  wilayah kediri.

Memang kenyataannya banyak sekali versi yang beredar. Namun sebagian besar dari yang tersebar itu antropologis, ilmuan, arkeologi dan juga ahli budaya percaya bahwa letak wilayah Majapahit yang sesungguhnya ialah di wilayah Trowulan dan sekitarnya.

Karena di daerah inilah banyak ditemukan benda-benda yang ada hubungannya dengan kerajaan majapahit, misalnya prasasti, artefak, dan juga berbagai konsstruksi bangunan semisal candi-candi, gapura, maupun makam.

Peninggalan Kerajaan Majapahit

Peninggalan Kerajaan Majapahit banyak ditemukan di Indomesia ini salah satunya adalah candi-candi yang banyak didtinggalkan oleh berbagai macam kerajaan kuno, dan  memiliki nama-nama candi yang berbeda dan ukuran berbeda-beda juga, ada yang besar semisal candi borobudur dan ada juga yang kecil. Berikut ini peniggalan pada masa kejayaan Majapahit:

1. Candi Wringin Lawang

Kerajaan Majapahit
intiwhiz.com

Seperti bangunan gapura agung dengan bahan batu merah yang meilki luas dasar 13×11 meter dan memiliki tinggi 15,5 meter dan arsitektur candi ini bentar atau “candi terbelah” yang sampai sekarang ini sudah banyak ditirukan dalam gaya arsitektur Bali.

Diperkirakan pungsi utama candi ini ialah sebagai pintu gerbang untuk menuju kawasan utama di Ibukota Majapahit. Lokasinya terlihat dari jalan utama Surabaya-solo, lebih tepatnya di daerah Brangkal sebelum masuk ke wilayah Trowulan sehingga mudah terjangkau apabila anda mau melihatnnya.

2. Candi Brahu

Kerajaan Majapahit
idsejarah.net

Candi Brahu ini berada di kawasan Bejijong, Trowulan yang saat ini merupakan pusat pengrajin kuningan dan Patung Batu. Candi Brahu ini merupakan bangunan suci untuk beribadah yang digunakan untuk memuliakan para anggota keluarga kerajaan yang sudah meninggal. Konon katanya 4 raja Majapahit yang meninggal diprabukan atau dikremasi di sekitar bangunan candi Brahu.

3. Candi Gentong

Kerajaan Majapahit
penerbit-menara-madina.blogspot.co.id

Candi Gentong ini masih dalam tahapan restorasi, sehingga bentuknya masih berwujud reruntuhan bangunan yang belum bisa di saksikan atau digunakan untuk tempat wisata peninggalan kerajaan zaman dulu. Sedangkan lokasi dari Candi Gentong ini berada dekat dengan Candi Brahu.

4. Candi Tikus

Kerajaan Majapahit
amazingjawatimur.blogspot.co.id

Candi Tikus merupakan kolalm pemandian ritual (petirtaan) yang memiliki bentuk bangunan kolam bujur sangkar dengan ukuran 22,5 x 22,5 meter dengan arsitektur teras-teras persegi dengan mahkota menara-menara yang disusun konsentris dijadikan titik tertinggi pada bangunan candi ini. Pada sisi utara terlihat sebuah tangga menuju pada dasar bangunan kolam.

Struktur utama dari dinding selatan yang menonjol diperkirakan meniru bentuk dari gunung legendaris Mahameru. Dulu konon kolam ini dipungsikan untuk tempat pemandian putri raja-raja Majapahit. Nama Candi Tikus sendiri diberikan karena dulu tempat ini menjadi sarang tikus yang selalu memakan tanaman sawah milik penduduk.

5. Candi Bajang Ratu

Kerajaan Majapahit
ashadewi.blogspot.co.id

Keberadaan Candi Bajang Batu tidak jauh dari Candi Tikus, yang berupa bangunan ramping lagi anggun dengan memiliki arsitektur gapura paduraksa dengan memiliki tinggi 16,5 meter. di bagian atapnya terdapat aksesoris bangunan yang memeperlihatkan hiasan ukiran yang rumit atau detail. Arti dari nama Bajang ratu dalam bahasa Jawa ialah “Raja Kecil” masyarakat mengaitkan dengan raja kedua Majapahit yakni Jayanegara.

Konon Jayanegaraa saat kecil pernah jatuh di tempat ini, sedangkan lainnya menganggap karena Raja Jayanegara naik tahta di usianya yang masih muda. Sedangkan sejarawan sendiri mengkaitkan akan bangunan candi ini sebagai penghormatan untuk Raja Jayanegara yang meninggal pada tahun 1328 Masehi.

6. Candi Kedaton

Kerajaan Majapahit
id.wikipedia.org

Candi ini sampai saat ini masih dalam tahap restorasi, karena wujudnya masih misteri yang sulit diketahui. Pada komplek candi ini ada beberapa bangunan seperti candi, mulut gua, sumur upas, lorong rahasia dan makam Islam. Para ahli sejarah masih berusaha untuk membongkar misteri agar ditemukan bentuk bangunan candi ini.

Namun ada dugaan mengenai daerah kedaton ini yang mana dulu merupakan komplek ibukota Majapahit di masa-masa yang terakhir

7. Candi Minak Jinggo

Kerajaan Majapahit
ockym.blogspot.co.id

Bangunan yang berada didekat kolam segaran ini cuma tersisa reruntuhan bangunannya saja, mempunyai bentuk yang unik berupa kombinasi bahan andesit pada bagian luar dan baru pada bagian dalam. Pada candi ini ditemukan arca unik dengan bentuk ukiran mahluk ajaib yang diperkirakan sebagai Oilin (mahluk ajaib dalam kepercayaan China).

Ditemukannya arca ini diduga kuat bahwa ada hubungan budaya yang sangat kuat antara kerajaan Majapahit dengan raja dari Cina Dinasati Ming. Candi ini mempunyai keterkaitan sangat erat dengan cerita atau legenda rakyat Danar Wulan dan Minak Jinggo.

8. Candi Grinting

Kerajaan Majapahit
disparpora.mojokertokab.go.id

Candi yang berada di dusun Grinting desa Karang Jeruk Kecamatan Jatirejo ini belum banyak dikenal hal layak umum. Informasi yang didapatkan mengenai adanya bangunan candi ini juga tidak banyak, selain bekas pondasi bangunan yang didapati oleh pembuat batu bata.

9. Pendopo Agung

Kerajaan Majapahit
myworldmyride.blogspot.co.id

Bangunan Pendopo Agung ini dulunya berupa penemuan umpuk-umpuk yang besar yang diperkirakan sisa dari sebuah bangunan pendopo agung sebagai tempat Raja Majapahit untuk menemui tamu-tamu agungnya, letaknya juga tidak jauh dari kolam Segaran.

Sekarang tampat ini sudah dipugar oleh pihak kodam V Brawijaya menjadi bangunan yang nyaman untuk ditempati. Di belakang bangunan ini terdapat batu miring, yang konon katanya menjadi tempat mahapati Gajah Mada mengikrarkan isi sumpah palapa. Selain itu juga ada komplek makam dan petilasan Raden Wijaya (pendiri kerajaan Majapahit) yang ramai pengunjung oleh pejiarah.

10. Kolam Segaran

Kerajaan Majapahit
saiaferdibucha.wordpress.com

Kolam Segaran merupakan bangunan monumental berbentuk kolam besar dari batu bata dengan bentuk persegi panjang berukuran 800 x 500 meter persegi. Kolam Segaran ini memiliki kedalaman sekitar 3 meter dengan ketebalan dinding 1,6 meter. Nama Segaran berasal dari kata jawa “segara” yang artinya “laut”, mungkin masyarakat sekitar mengibaratkan kolam ini sebagai laut kecil.

Diduga kolam ini berfungsi sebagai penampungan air bagi para penduduk Kerajaan Mataram yang padat, atau  sebagai tempat berlataih renang untuk para prajurit kerajaan.

Ada juga yang menduga bahwa kolam ini merupakan tempat hiburan atau menjamu para tamu kerajaan, yang mana mereka dijamu di tepi kolam dan dilengkapi dengan perlengkapan makan dari emas dan perak, setelah itu sesuai acara jamuan itu, peralatan yang mahal itu dilemparkan ke tengah kolam guna menunjukkan betapa makmurnya Kerajaan Majapahit.

11. Situs Lantai Segi Enam

Kerajaan Majapahit
bppdkabmojokerto.com

Situ yang berupa sisa-sisa banguna rumah ini mempunyai keunikan tersendiri, kerena ditemukannya hamparan lantai kuna berbentuk paving blok dengan bentuk segi enam dari bahan tanah liat  yang dibakar dan dibuat halus dengan ukuran 34 x 29 x 6,5 cm. Pada situs ini bisa terlihat sisa lantai, sisa dinding dan juga beberapa perabotan dari bahan tembikar semisal gentong dan pot tanah liat.

Diduga dulu situs ini merupakan bagian dari komplek bangunan istana kerajaan atau mungkin juga sebagai bangunan milik bangsawan pada zaman kerajaan Majapahit.

12. Alun-alun Watu Umpak

Kerajaan Majapahit
mojoklik.blogspot.co.id

Situs ini berada hanya sekitar 100 meter dari Candi Kedaton, merupakan kumpulan batu umpak dengan ukuran besar yang tersusun rapih. Diduga situs ini merupakan bekas bangunan istana Kerajaan Majapahit yang masih ada kaitannya juga dengan situs Candi Kedaton.

13. Makam Putri Campa

Kerajaan Majapahit
blog.ub.ac.id

Merupakan wilayah pemakaman Islam kuno yang mana lokasinya dekat dengan Candi Menak Jinggo dengan makam putri Campa, yang diduga sebagai selir atau istri dari Raja Majapahit periode terakhir.

Dari bantuknya makam ini diperkirakan sebagai makam putri Campa yang meninggal pada tahun 1448 masehi dan sudah memeluk Agama Islam, dan konon Raja Majapahit yang terakhir berhasil diajak memeluk Islam.

Seperti yang sudah diketahui bahwa Raden Patah sebagai pendiri Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa adalah putra dari Raja Brawijaya, Raja Majapahit pada periode terakhir.

14. Makam Troloyo

Kerajaan Majapahit
waliyuallahliveforever.blogspot.co.id

Merupakan wilayah pemakaman Islam kuno, yang mana kebanyakan dari batu nisan itu berangka tahun 1350 dan 1478. Makam Troloyo ini membuktikan bahwa komunitas muslim bukan cuma sudah ada di pulau Jawa di pertengahan abad ke-14, melainkan agama Islam telah ada dan diakui oleh sebagian kecil masyarakat Ibukota Majapahit.

15. Siti Inggil

Kerajaan Majapahit
disparpora.mojokertokab.go.id

Siti inggil atau yang berarti tanah tinggi atau mungkin juga dikonotasikan sebagai tanah yang di Agungkan, bertempat di dekat lokasi Candi Brahu. Konon dulunya siti inggil berupa punden yang pernah menjadi tempat Raden Wijaya bertapa.

Di lokasi ini ditemukan situs berupa dua makam yaitu makam Sapu Jagat dan Sapu Angin yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat dan banyak dikunjungi para peziarah terutama di malam Jum’at.

16. Candi Jolotunda

Kerajaan Majapahit
ged3ditrawas.blogspot.co.id

Candi ini berada di lereng Gunung Bekal, salah satu puncak dari gunung Penanggungan. Tepatnya lagi di Desa Seloliman Kec Trawas. Bangunannya terbuat dari susunan batu kali dengan memiliki panjang 16,85 meter dan lebar 13,52 meter.

Candi ini menurut data sejarah menunjukkan angka tahun 977 masehi, dan di belakang sebelah kiri dinding terdapat tulisan Gempeng dan disebelah sudut utara terdapat tulisan juga.

17. Reco Lanang

Kerajaan Majapahit
putrapenanggungan.blogspot.co.id

Arca dengan ukuran tinggi 5,7 meter dan terbuat dari batu andesip ini merupakan gambaran dari wujud salah satu Dhani Budha yang dijuluki Aksobnya yang menguasai akan arah mata angin sebelah timur. Agama Budha Mahayana meyakini adanya beberapa bentuk kebudhaan yakni selalu berada di langit dan bertafakur.

Dengan kekuatannya ia menyinari seorang manusi Budha yang ditugaskan utnuk mengajarkan dharma di dunia. Tugas manusi budha akan selesai atau berakhir setelah wafat dan kembali lagi ke Nirwana. Demi kelancaran ajaran dharma, Dhyani budah memancarkan  lagi dirinya ke dunia yaitu ke Dhayani Bodhisatwa.

Setiap jaman memiliki bermacam rangkayan Dhyani Budha, Manusi Budha dan Boddhisatwa. Sekarang di wilayah Trowulan sudah banyak pemahat-pemahat yang membikin arca, sehingga orang dari luar daerah bahkan luar negeri tidak sedikit memesan patung-patung seperti patung peniggalan Kerajaan Majapahit.

18. Api Abadi Bekucuk

Kerajaan Majapahit
yukpiknik.com

Menurut legenda yang tersebar di sebagian masyarakat, konon apa abadi bekucuk ini sudah dikenal pada masa Kerajaan Majapahit. Api yang mengagumkan itu dimanfaatkan dengan baik untuk berbagai keperluan, api bekucuk pernah menjadi sorotan masyarakat di tahun 1933 yaitu munculnya sumber api kecil pada pekarangan dan rumah penduduk sehingga Pemda Kabupaten Mojokerto melakukan peninjauan atau penelitian.

semenjak itu api bekucuk ini banyak menjadi dayatarik masyarakat. Lokasnya berada di dusun Bekucuk Ds. Tempuran Kec. Sooko dengan jarak kira-kira 3 Km dari Kota Mojokerto.

19. Museum Purbakala Trowulan

Kerajaan Majapahit
indah-haya.blogspot.co.id

Museum ini berada di Dusun Trowulan, Kec. Trowulan. Museum Purbakala Trowulan ini  bisa ditempuh menggunakan semua jenis transportasi, entah itu melewati jalan raya Trowulan atau jalan kecamatan yang tepat di sebrang kolam Segaran.

Museum ini didirikan oleh seorang kanjeng Adipati Ario Kromojoyo Adinegoro bersama dengan Ir. Henry Maclaine Pont pada tahun 1942 dengan bertujuan untuk mengumpulkan artefak hasil dari penelitian arkeologi di sekitar Trowulan.

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit
orangdalam.com

Pada abad ke-14 yaitu abad puncak kejayaan Majapahit, namun setelah itu Majapahit sedikit demi sedikit semakin melemah. Setelah Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389, Majapahit mulai mengalami kemunduran yang diakibatkan konflik perebutan tahta. Putra Mahkota Kusulmawardhan sebagai pewaris tahta Hayam Wuruk, menikahi sepupunya sendiri pangeran Wikramawardhana.

Hayam Wuruk  juga mempunyai putra dari selirnya Wirabhumi yang mana ia juga menuntut akan haknya atas tahta. Perang saudara yang dinamakan Perang Paregeg kira-kira terjadi di tahun 1405 sampai 1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana.

Akhirnya perang ini dimenangkan oleh Wiramawardhana, sementara itu Wirabhumi ditangkap lalu dipancung. Nampaknya kejadian perang saudara imi menjadikan kendali Kerajaan Majapahit lemah atas daerah-daerah yang sudah dikuasainya di sebrang.

Islam Masuk Ke Nusantara

Pada masa Wikramawardhana memerintah, serangkaian ekspedisi laut dari dinasti Ming yang dipimpin langsung oleh laksamana Chaeng Ho, seorang jendral China muslim, sampai di Jawa beberapa kali anatara tahun 1405 sampai 1433.

Dari tahun 1430 ekspeedisi Cheng Ho ini berhasil membuat komunitas muslim China dan Arab dibeberapa kota pelabuhan pantai Jawa bagian utara, semisal di Semarang, Tuban, Demak dan Ampel. Maka Agama Islam  pun sudah memiliki pijakan di pantai utara jawa.

Kepemerintahan Wikhramawardhana sampai tahun 1426 dan diteruskan oleh anak perempuannya yang bernama Ratu Suhita, yang memimpin pada tahun 1426 hingga 1447. Ia merupakan putri kedua Wikramawardhana dari selirnya yang juga merupakan putri kedua Wirabhumi.

Pada tahun 1447 Ratu Suhita meninggal dunia dan tahtanya digantikan oleh Kertawijaya yang merupakan adik laki-lakinya. Ia memimpin pemerintahan sampai tahun 1451. Setelah wafatnya Kertawijaya, yang menjadi raja yaitu Bhere Pamotan dengan gelar Rajasawardhana dan memimpin di Kahuripan. Ia meninggal di tahun 1453.

Akibat krisis pewarisan tahta, terjadi jeda waktu selama tiga tahun tanpa raja. Girisawardhana yang merupakan putra dari Kertawijaya naik tahta pada tahun 1456. Kemudian ia wafat pada tahun 1466 dan digantikan dengan Singhawikramawardhana.

Pada tahun 1468 Singhawikramawardhana di berontak oleh pangeran Kertabhumi dan mengangkat dirinya menjadi raja Majapahit. Ketika Majapahit berdiri, pedagang muslim dan para Da’i Islam sudah mulai berdatangan ke Nusantara. Pada abad ke-14 akhir, dan awal abad 15, pengaruh Majapahit di selurah wilayah Nusantara mulai berkurang.

Pada saat bersamaan, kerajaan perdagangan yang baru dengan dasara ajaran Agama  Islam, yakni Kesultanan Malaka mulai muncul di wilayah barat Nusantara. Kemaharajaan Majapahit di bagian barat yang mulai runtuh ini, Majapahit tak mampuh lagi membendung bangkitnya Kesulthanan Malaka yang dimulai pada pertengahan abad ke-15 menguasai Selat Malaka dan menambah wialyah kekuasaanya ke Sumatra.

Sementara itu dari beberapa jajahan dan wilayah yang ditaklukkan Majapahit, satu per satau mulai berlepas diri dari kepemerintahan Majapahit. Sebuah wujud dari Kapal Majapahit di Museum Kuala Lumpur Malaysia, Singhawikramawardhana memindah alihkan ibukota kerajaan lebih jauh lagi ke pedalaman di Daha (yang dulunya merupakan ibukota Kerajaan Kediri) dan terus memimpin disana sampai kepemimpinannya digantikan oleh putraya yaitu Ranawijaya pada tahun 1474.

Ranawijaya pada tahun 1474 mengalahkan Kertabumi dan menyatukan kembali Majapahit menjadi kerajaan yang satu. Ranawijaya memimpin pada masa tahun 1474 samapi 1519 dengan dianugrahi gelar Girindrawardhana. Meskipun demikian kekuatan dinasti Majapahit telah melemah dikarenakan adanya konflik dinasti ini, sedangkan kekuatan kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Jawa mulai bangkit.

Candasengkala

Waktu berakhirnya kejayaan Majapahit kira-kira pada masa tahun 1478 (tahun 1400 saka, bergantinya abad diyakini sebagai waktu lazim pergantian dinasti dan telah berakhirnya suatu pemerintahan) sampai tahun 1527. Dalam terdisi jawa ada semacam Candasengkala atau Kronogram yang berbunyi  Sirna Ilang Kretaning Bumi.

Konon sengkala ini merupakan tahun berakhirnya Majapahit dan wajib dibaca sebagai 0041, yakni taun 1400 saka, atau 1478 Mashi. Arti dari Sengkala ini ialah :”sirna Hilanglah Kemakmuran Bumi”.

Namun seperti itu yang sebenarnya digambarkan oleh Candrasengkala itu ialah gugusnya Bhere Kertabumi, raja ke-11 dari Kerajaan Majapahit, oleh Girindrawhardana prasasti Petak dan Jiyu, Ranawijaya mengaku bahwasanya ia sudah mengalahkan Kertabhumi dan memindahkan Ibukita Majapahit ke Daha (Kediri). Pristiwa ini memunculkan perang diantara Daha dengan Kesutanan Demak, dikarenakan penguasa Demak merupakan keturunan Kertabhumi.

Perang Kerajaan Majapahit dan Kesultana Demak

Dalam peperangan ini dimenangkan oleh Kesultanan Demak pada tahun 1527. Sebagian besar abdi istana, pendeta, seniman, dan anggota keluarga kerajaan pindah ke pulau Bali. Kemungkinan besar pengungsian ini untuk menghindari hukuman dan pembalasan dari kesultanan Demak diakibatkan karena selama ini mereka mendukung Ranawijaya untuk melawan Kerthabumi.

Dengan runtuhnya Daha yang diruntuhkan oleh Demak pada tahun 1527, pada awal abad ke-16 kekuatan kerajaan Islam akhirnya mengalahkan sisa-sisa Kerajaan Majapahit. Demak yang dipimpin oleh Raden Fatah diakui sebagai penerus dari Kerajaan Majapahit. Menururt tradisi Demak dan Babad Tanah Jawi, legitimasi Raden Fatah karena beliau merupakan putra dari raja Majapahit Brawijaya V dengan seorang putri China.

Catatan buku sejarah dari Tiongkok , Italia (Pigafetta), Portugis (Tome Pires) menunjukkan bahwa telah terjadi pemindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu kepada tangan Adipati Unus, penguasa asal Kesultanan Demak, diantara tahun 1518 dan 1521 Masehi.

Demak Meyakinkan posisinya sebagai sebuah kekuasaan regional dan menjadi kerajaan Islam yang pertama berdiri di tanah Jawa. Setelah keruntuhan Majapahit, saat itu sisa kerajaan Hindu yang masih ada di tanah Jawa cuma tinggal Kerajaan Blambangan yang berada di ujung timur, serta kerajaan Sunda yang keberadaan ibukotanya di Pajajaran bagian barat.

Sedikit demi sedikit Islam mulai menyebar luas bersamaan dengan mundurnya masyarakat Hindu ke pegnungan dan Bali. Beberapa kelompok masyarakat Hindu Tengger sampai saat ini masih bertahan di dalam pegunungan Tengger di kawasan Bromo dan Semeru.

Kesimpulan

Tinggalkan komentar