I'tikaf

Panduan Lengkap Mengenai I’tikaf yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Beri’tikaf

Dalam melakukan i’tikaf kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu i’tikaf, tata cara i’tikaf, niat, tempat, dan waktu i’tikaf. Tidak kalah pentingnya kita juga tau dari keutamaan i’tikaf, hadits tentang i’tikaf juga hukum i’tikaf untuk wanita.

Beri’tikaf di masjid pada waktu 10 hari terakhir di Bulan Ramadhan merupakan amalan sunnah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam untik mendapatkan keutamaan sepuluh hari terakhir pada Bulan Ramadhan, khususnya malam yang paling mulia malam seribu bulan yaitu malan lailatul qodar

I’tikaf Adalah

i'tikaf
twitter.com

I’tikaf dalam bahasa ialah menetap dan berdiam diri dalam sesuatu. Sedangkan pengertian i’tikaf dalam istilah terdapat perbedaan terhadap kalangan para ulama. Para Ulama Hanafi (Al-Hanafityah) berpendapat i’tikaf ialah berdiam diri di dalam masjid yang dimana biasanya dipakai untuk melaksanakan sholat berjama’ah, sedangkan menurut Para Ulama Syafi’i (Asy-Syafi’iah) i’tikaf ialah berdiam diri di dalam masjid dengan mengamalkan amalan-amalan tertentu disertakan niat hanya karena Allah Swt.

Ada Juga dari Majelis Tarjih dan Tajdid di dalam buku tuntunan Ramadhan dijelaskan i’tikaf artinya aktifitas dalam berdiam diri di masjid dalam satu waktu tertentu disertai dengan mengerjakan amalan-amalan (Ibadah) dengan tujuan mengharap ridha dari Allah Swt.

Hadits Tentang I’tikaf

I’tikaf disyariatkan dengan landasan dasar dari al-Qur’an dan Hadits.

I'tikaf
al-Baqarah ayat 187

i'tikaf

Dari Aisyah ra “Sesungguhnya Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan sampai akhirnya Allah mewafatkannya. Kemudian istri-istri Nabi saw beri’tikaf sepeninggalnya”. [Hadits Sahih Riwayat  Muslim, Imam Al Bukhari, Abu Dawud,  Ahmad Tirmidzi, dan Malik]

Tata Cara I’tikaf

i'tikaf
masralarabia.com

Ketika kita meniatkan akan ber’itikaf, kita harus tau dulu tata cara dari i’tikaf itu sendiri agar kita tau apa saja yang harus kita lakukan dalam mennjalankan i’tikaf di masjid, supaya mendapatkan keridhaan Allah Swt dan menjadikan diri kita lebih baik dari yang sebelumnya.

Niat I’tikaf

I'tikaf
kutubindonesia.blogspot.co.id

Niat i’tikaf ini untuk kalian yang meyakini semua amalan harus dibareni dengan lafadz niatnya. Tapi kalau kalian meyakini niat itu cukup di hati dan tanpa harus dilafadzkan silahkan abaikan lafadz niat ini, dan jangan jadikan ikhtilaf ini sebagai bahan olok-olokan kita sesama umat muslim.

Waktu I’tikaf

I’tikaf sangat dianjurkan dalam melakukannya disetiap waktu pada Bulan Ramadhan. Terdapat adanya perbedaan pendapat Dikalangan para ulama tentang waktu pelaksanaan i’tikaf, apakah dalam melaksanakannya harus sehari semalam (24 jam), atau boleh dilaksanakan sesaat atau beberapa waktu tertentu saja.

Dalam pendapat Al-Hanafiyah bahwa i’tikaf bisa dilaksanakan pada waktu yang sebentar tetapi tidak ada ketentuan berapa batas lamanya. Sedangkan menurut Al-Malikiyah (Ulama Maliky) bisa dibilang i’tikaf apabila dilaksanakan dalam waktu yang minimal satu malam satu hari.

Dengan memperhatikan dua pendapat di atas, bisa disimpulkan bahwa dalam mengerjakan i’tikaf dapat dilaksanakan dibeberapa waktu tertentu, misal cuma 1 jam, 2 jam 3 jam dan seterusnya, dan juga boleh dilaksanakan pada waktu sehari semalam atau 24 jam.

Sedangkan bagi seseorang yang berniatan melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir di Bulan Ramadhan, hendaknya ia mulai memasuki masjid atau mulai beri’tikaf sebelum terbenam matahari pada malam 21, sebagaimana pendapat dari jumhur ulama (kebanyakan ulama)

I’tikaf di Masjid

I'tikaf
akhbaar24.argaam.com

Dalam penjelasan al-Qur’an surat al-Baqoroh pada ayat 187 dijelaskan bahwasanya amalan i’tikaf dilaksanakan di masjid. Dikalangan para ulama sendiri ada perbedaan pendapat mengenai masjid yang bisa digunakan untuk menunaikan i’tikaf, apakah di masjid jami’ (masjid besar) ataukah masjid lain juga bisa.

Sebagian berpendapat Bahwa masjid yang bisa dipakai untuk melakukan i’tikaf ialah masjid yang memiliki iman serta muadzin khusus, baik masjid tersebut digunakan dalam pelaksanaan sholat pada lima waktu atau tidak. Hal seperti ini dipegang oleh al-Hanafiyah.

Sedangkan pendapat lain berpendapat bahwa i’tikaf cuma bisa dilaksanakan di masjid yang biasa digunakan untuk menunaikan sholat jama’ah. pendapat ini dikeluarkan oleh al-hanabilah (Ulama Hambali)

Para ulama juga sepakat bahwa masjid jami’ boleh digunakan untuk beri’tikaf dan keutamaannya, lebih utama setelah mengerjakan i’tikaf di Masjid Harom, Masjid Nabawi, dan Masjid al-Aqso dan lebih utama daripada masjid-masjid lainnya.

Namun para ulama selisih pendapat mengenai yang bukan termasuk masjid jami’, akan tetapi pendapat yang paling kuat adalah diperbolehkan i’tikaf di masjid selain masjid jami’ apabila didalamnya tempat untuk melaksanakan sholat jum’at, ini adalah pendapat dari Abu Hanifah dan Imam Ahmad berdasarkah perkataan ummul mukminin Aisyah ra, “diantara pekerjaan sunnah bagi seorang yang mengerjakan i’tikaf adalah tidak keluar masjid kecuali untuk melaksanakan hajat manusia dan tidak juga beri’tikaf kecuali di masjid (yang digunakan sholat) jama’ah.” (disahihkan oleh al-Bani).

Sedangkan para ulama Syafi’i berpendapat bahwasanya i’tikaf bisa dikerjakan di masjid apa pun, ini juga sama dengan pendapat para ulama Maliki, meskipun mereka mensyaratkan bahwa masjid yang digunakan untuk i’tikaf harus yang mubah dan jami bagi orang yang diwajibkan baginya sholat jum’at (Markaz al-Fatawa No. 55592).

Menurut pendapat kami masjid yang bisa dipekai untuk melaksanakan i’tikaf lebih diutamakan di masjid jami (masjid yang biasa digunakan untuk menunaikan sholat jum’at), dan tidak ada larangan untuk melaksanakan i’tikaf dimasjid yang biasa.

Syarat-syarat I’tikaf

Syarat sah dalam mengerjakan amalan i’tikaf yaitu:

  • Orang yang mengamalkan i’tikaf harus beragama Islam
  • orang yang mengamalkan i’tikaf dalam keadaan sudah baligh, baik laki-laki atau juga perempuan.
  • pelaksanaan i’tikaf harus di masjid, baik masjid jami’ atau juga masjd biasa
  • Orang yang akan melakukan i’tikaf baiknya memiliki niat sungguh-sungguh dalam i’tikaf
  • tidak ada syarat harus puasa bagi orang yang ber’itikaf, maksudnya orang yang tidak berpuasa boleh melaksanakan i’tikaf

Hal-hal yang Membatalkan I’tikaf

  • Berjima’ (bersetubuh) atau perbuatan muqodimahnya
  • Keluar dari masjid bukan karena keperluan mendesak (udzur syar’i)
  • Ilang hinngatan / atau Gila
  • Murtad
  • Nifas atau haid bagi wanita

Beberapa Hal yang Harus Diperhatikan Didalam Mengamalkan I’tikaf

para ulama sepakat dahwasanya orang yang mengerjakan i’tikaf harus tetap berada di dalam masjid atau tidak keluar dari masjid. Namun demikian juga bagi orang yang melaksanakan i’tikaf (mu’takif) diperbolehkan keluar dari masjid karena beberapa alasan yang diperbolehkan yaitu:

  • Karena alasan syar’i, seperti menunaikan sholat jum’at
  • Karena keperluan hajat manusia (hajat thabi’iyah) baik yang menpunyai sifat naluri atau yang bukan termasuk naluri, seperti buang air kecil, besar mandi janabah dan lainnya.
  • Karena ada sesuatu yang sangat darurat (tidak bisa tidak) semisal ketika sebuah masjid yang ditempati roboh dan lainnya.

Beberapa Amalan yang Bisa Dilakukan pada Saat I’tikaf

I'tikaf
mbc.net

Dengan mengkaji dari beberapa ayat dan hadits Rasulullah sallallahu alaihi wa salam, ada beberapa amalan ibandah yang bisa dilakukan oleh mu’takif (orang yang melaksanakan i’tikaf), yaitu:

  • Melakukan sholat sunnah, semisal sholat tahiyatul masjid, sholat lail (malam) dan yang lainnya.
  • memperbanyak sholat tahajud. Untuk mengetahui lengkap tentang tahajud, silahkan kunjungi panduan sholat tahajud.
  • berdo’a dan berdzikir
  • membaca atau mengkaji buku-buku agama

Hukum I’tikaf di Rumah

I'tikaf
triananurhandayani.wordpress.com

Para ahli fiqih sepakat berpendapat bahwa tidak sah i’tikaf seseorang kecuali dilakukan di masjid dengan landasan firman Allah Swt “sedangkan kamu beri’tikaf di dalam masjid” (QS. al-baqoroh : 187). Juga tidak ada ajarannya dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam karena beliau tiaklah beri’tikaf kecuali di dalam masjid.

Dan masjid yang lebih afdhol untuk i’tikaf adalah Masjid Haram dan Masjid Nabawi kemudian Masjid al-Aqso dengan dasar sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, “Sholat di masjidku (Masjid Nabawi) ini nilai pahalanya seribu kali lebih baik dibanding sholat pada masjid yang lain kecuali di masjid harom”. (dari Abu Hurairoh muttafaq alaih)

Dan dari riwayat lain oleh at-Tabrani dari Abu Darda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “ Sholat di Masjid Harom sama dengan seribu kali lipat sholat, dan sholat dimasjidku (Masjid Nabawi) sama dengan seribu kali sholat, sedangkan sholat di Masjid al-Makdis (Aqso) sama dengan lima ratus kali sholat.” (dihasankan oleh al-Bazzar).

Para ulama juga sepakat bahwasanya masjid jami’ boleh digunakan untuk beri’tikaf dan ia lebih utama sesudah ketiga masjid (harom, nabawi dan al-Aqso) daripada masjid-masjid yang lainnya.

Keutamaan I’tikaf

I'tikaf
radarbangka.co.id

Terdapat banyak sekali keutamaan bagi orang yang mengerjakan i’tikaf, termasuk berikut ini adalah 15 keutamaan dan faedah bagi orang yang mengerjakan i’tikaf:

  • Mencari malam seribu bulan (Lailatul Qodar)
  • akan terjaga dari segala perbuatan maksiat
  • Akan dijauhkan dari siksaan neraka jahannam sejauh tiga parit. Menurut al-Kandahlawi jarak dalam satu parit itu jauhnya melebihi antara jarak langit dan bumi.
  • akan dengan mudah untuk melaksanakan sholat fardhu secara terus menerus dan berjamaah
  • membantu menguatkan seseorang dalam menjalankan sholat dengan khusyuk.
  • Akan selalu beruntung dikarenakan selalu mendapatkan barisan pertama sholat jamaah.
  • mendapatkan pahala karena menunggu datangnya waktu sholat.
  • Membiasakan jiwa untuk senang berdiam lama di masjid, dan menggantungkan hatinya pada masjid
  • Memudahkan pelakunya dalam melaksanakan sholat malam (sholat tahajud dan sebagainya)
  • Membiasakan diri untuk hidup sederhana, zuhud dan juga berlaku tidak tamak terhadap kehidupan dunia.
  • Membantu dalam menjaga puasa seseorang dari perbuatan dosa yang kecil sekalipun.
  • Gunanya i’tikaf untuk mendidik jiwa kita agar terbiasa sabar dalam menjalankan perbuatan baik.
  • Dapat mencegah adanya keinginan untuk mengerjakan kemaksiatan, serta mendidik diri agar sabar dalam upaya menghindarkan diri dari kemaksiatan.
  • Dapat diaplikasikan sebagai sarana guna intropeksi diri juga dapat tau sejauh mana kelemahan dan kekuatan yang ada.

I’tikaf untuk Wanita

I'tikaf
aljazeera.net

Berdasarkan dalil-dalil yang ada, maka bisa disimpulkan bahwa pendapat yang menyebutkan bahwa hukum beri’tikaf untuk wanita adalah sunnah, pendapat ini lebih dekat kepada sebuah kebenaran.

Seangkan hadits Aissyah yang menerangkan bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan melepas kemah para istrinya ketika mereka mengerjakan i’tikaf bukan menunjukkan ketidak sukaan Rasulullah Saw apabila para wanita ikut melakukan i’tikaf.

Namun motif Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam memerintahka hal seperti itu ialah kekhawatiran jika para istri Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam saling cemburu dan berebut dalam melayani Rasulullah Saw. Maka dari itu, dalam hadits tersebut Raasulullah bersabda, “Apakah kebaikan yang diinginkan oleh mereka dengan melakukan sebuah tindakan ini?”

Tinggalkan komentar