Catatan Sejarah Kami di Aksi 212

Berawal dari seorang wakil rakyat non muslim yang menjabat sebagai Gubernur Jakarta, menyatakan sebuah pernyataan, yang dimana pernyataannya itu tidak layak dia katakan.

Basuki Tjahya Purnama atau biasa dipanggil Ahok adalah Wakil Gubernur Jakarta yang naik pangkat menjadi Gubernur, menggantikan Bpk. Joko Widodo Gubernur sebelumnya, yang menjadi Presiden Republik Indonesia periode 2014 – 2019

Ahok satu-satunya Gubernur Jakarta non muslim dan dia juga gubernur yang tidak bisa menjaga lisannya. Kata kotor dan keras sering keluar dari mulutnya, yang sebenarnya itu tidak layak terucap dari mulut seorang pemimpin.

Terlalu banyak kata-kata kasar yang ia ucapkan, membuat warganya marah dengan kepemimpinannya. Dan tidak jarang dari kata-kata yang dia keluarkan, mengandung hinaan terhadap umat beragama.

Kenapa disini saya bilang umat beragama? Karena bukan hanya agama islam yang dia hina, tapi agama lainnya juga tidak luput dari hinaannya.

Pelecehan Ayat Al-Qur’an

Batampos.com

Akhir September 2016 Ahok Gubernur DKI Jakarta, melakukan kunjungan di Kepulauan Seribu, untuk mencanangkan program budidaya Ikan Gabus. Tapi pada saat acara temu warga Kepulauan Seribu, Ahok tidak hanya membicarakan tentang pembudidayaan Ikan Gabus, akan tetapi dia juga melakukan kampanye gelap.

Dan yang paling bermasalahnya lagi, Ahok membawa salah satu Ayat Al-Qur’an yang terkandung dalam Surat Al-Maidah ayat 51, untuk supaya warga Kepulauan Seribu yang beragama islam memilih dia untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta di pencalonan keduanya.

Pesan yang Ahok tanamkan kepada masyarakat Kepulauan Seribu yang beragama islam, “jangan mau dibohongi sama Al-Maidah ayat 51”.

Dengan keberadaan agamanya yang bukan orang islam, dan dia juga tidak boleh mengkampanyekan dirinya pada saat waktu dinas, membuat para ulama dan umat islam marah. Karena apa yang dia bicarakan itu sangat menghina Al-Qur’an, tekhususnya Al-Maidah ayat 51. Itu termasuk juga pelecehan agama.

Para ulama dan sekelompok ormas islam, mengajukan permohonan kepada polisi, sebagai lembaga penegak hukum agar Ahok ditangkap dan di adili. Karena dia telah melanggar KUHP (KItab Undang-undang Hukum Pidana) yang tertera di pasal 156 A tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Tapi laporan itu, tidak di peroses dengan baik oleh kepolisian selaku penegak hukum, bahkan terkesan ditunda-tunda yang menjadikan para ulama dan sekelompok Umat Islam melakukan aksi unjuk rasa, agar Ahok segera di proses sebagai mana mestinya.

Aksi Bela Islam 14 Oktober

beritalangitan.com

Tanggal 14 Oktober 2016 aksi bela islam dan tuntutan untuk penjarakan Ahok yang pertama ini, dapat mengumpulkan puluhan ribu masa yang terdiri dari para ulama, Ormas FPI dan masyarakat sekitar Jakarta. Kalau tuntutan tersebut tidak di proses, maka Habib Riziq Syihab berjanji akan mengadakan aksi ke dua.

Aksi Damai Bela Islam 411

panjimas.com

Benar adanya, ternyata tuntutan itu dihiraukan. Aksi bela Islam jilid II pun muncul untuk merapatkan barisan Umat Islam dalam melawan kedzaliman terhadap Islam. Aksi itu terjadi pada tanggal 4 November 2016 di ikuti oleh ratusan ribu masa, yang kita kenal sebagai Aksi Bela Islam 411.

Aksi Bela Islam 411 membuahkan hasil yaitu ditetapkannya Basuki Tjahya Purnama atau Ahok sebagai tersangka. Tapi mengapa Ahok tidak kunjung ditahan padahal status tersangka sudah ia sandang.

Aksi Super Damai Bela Islam 212

news.beritaislamterbaru.org

Maka dengan kejadian itu para ulama sepakat untuk mengadaka Aksi Bela Islam jilid III untuk melanjutkan tuntutannya yaitu penjarakan Ahok. Aksi itu terjadi pada tanggal 2 Desember 2016, yang diberi nama dengan Aksi Super Damai Bela Islam Jilid III – Aksi 212 dengan masa yang ikut serta sekitar 7,5 juta masa.

Dan Akhirnya berkas laporan Ahok tersangka, sudah diserahkan di Kejaksaan Agung untuk diproses lebih lanjut lagi.

Al-Amanah Mencatat

Seperti Umat Islam yang lain, marah dengan terjadinya pelecehan terhadap Kitab Allah SWT ini, kami sebagai Santri Pondok Pesantren Al-Amanah juga merasakan kemarahan itu. Pasalnya setiap hari kita baca dan setiap hari kita hafalkan Al-Qur’an ini, tapi mengapa ada orang Kafir yang seenak-enaknya menghina Al-Qur’an.

Kami geram, kami marah dan kami tidak terima dengan perlakuannya terhadap Al-Qur’an dan Islam.

Walaupun Aksi 14 Oktober kami tidak bisa ikut serta, tapi itu bukan berarti kami tidak marah terhadap si penista agama itu.

Ikut di Aksi 411

Dengan ketidak puasan umat islam terhadap kinerja penegak hukum, yang sepertinya sengaja memperlambat dalam memproses si penista agama, akhirnya menimbulkan Aksi Damai 411 sebagai tanda bahwa kami Umat Islam tidak bisa dipermainkan.

Habib Rizik dan para ulama yang lainnya, menyatakan bahwa akan ada Aksi Damai 411 yang akan di laksanakan pada tanggal 04 November 2016. Setelah mendengar kabar itu, Pak. Salmin (donatur pesantren) menghimbau kepada seluruh Santri Al-Amanah untuk ikut serta di Aksi 411.

Dengan adanya mandat dari donatur itu, kami mengalami kebingungan, mau naik apa untuk sampai ketujuan. Setelah bermusyawarah dengan para Ustadz dan semua santri mengenai pemberangkatan kami untuk ikut dalam aksi 411,

akhirnya Allah SWT memberi jalan kepada kami yaitu mendapatkan satu Bus untuk di jadikan kendaraan kami menuju Masjid Istiqlal. Bus itu didapat dari Masjid Al-Ittihad Perumahan Bukit Permai Cibubur. Menandakan kami siap untuk ikut serta di Aksi 411.

Suasana terharuh dan bahagia melihat Ratusan ribu Umat Islam berkumpul disatu tempat yaitu Masjid Istiqlal, untuk membela Islam dan itu semua salah satu tanda kalau Umat Islam Indonesia bisa bersatu.

Setelah melaksanakan Sholat Jum’ah berjamaah, Habib Riziq selaku ketua FPI dan komando Gerakan Bela Islam menghimbau kepada kami untuk berjalan santai dari Masjid Istiqlal menuju Istana Negara dengan tertib dan tidak merusak.

Aksi ini berjalan dengan damai, sampai akhirnya di malam hari, ada provokator yang menyusup ke kami untuk membuat kegaduhan. Bentrokan antara masa dan polisi tidak terbendung lagi, sampai akhirnya gas air mata pun di pakai untuk membubarkan masa.

Banyak korban berjatuhan karena terkena gas air mata dan segera di bawa ke rumah sakit terdekat. Habib Riziq menyatakan, “kalau Ahok tidak di penjarakan setelah aksi ini, kami akan mengumpulkan masa lebih banyak dari masa yang kumpul saat ini”.

Aksi ini hanya menghasilkan sebuah satement dari seorang presiden bahwa si penista agama akan segera di proses dengan secara transparan.

Ikut di Aksi 212

Al-Amanah

 

Penegek hukum menetapkan Ahok sebagai tersangka, akan tetapi dengan statusnya sebagai tersangka, polisi dengan berbagai alasannya tidak memenjarakan Ahok. Bahkan dia masih menjabat sebagai Gubernur Dki Jakarta dan Ahok juga di dalam penyelidikannya di lakukan dengan lambat.

Sehingga dengan kejadian ini, seolah-olah pihak kepolisian berada di pihak Basuki Tjahya Purnama  atau Ahok. Para ulama tidak pusa dengan kinerja kepolisian yang seakan mempermainkan Umat Islam. Seperti apa yang di katakan Habib Rizik di Aksi 411 kemarin, mengenai akan mengumpulkan masa lebih banyak lagi, terbukti di Aksi 212 ini.

Aksi 212 dapat mengumpulkan Umat islam berkali lipat dari Aksi 411

Kami pun ikut kembali dalam Aksi 212 ini. dipengalaman saya pribadi Aksi 212 ada yang beda dengan Aksi 411, karena di Aksi 212 ini, dua mausia kampung itu ikut juga. Menambah masa untuk ikut aksi dan dengan kehadirannya menambah keseruan di cerita hidup saya.

Dia Berdua Juga Ikut

Budi, Ibnu, Kanta

 

Berawal dari saya menbaca status Facebook mlik Budi, yang isinya adalah keinginannya ikut serta dalam Aksi 212, membuat hati saya terpanggil untuk mengajaknya.

Tak enak rasanya, apabila saya mengajak Budi (sepupu saya) tanpa mengajak adik-adik saya, karena saya rasa mungkin adik-adik saya juga mau ikut. Tidak lama kemudian, saya langsung menghubungi Budi, Kanta dan juga Idrus (adik saya).

Setelah saya menkonfirmasi Budi, Kanta dan Idrus, mereka bertiga dengan perasaan senang, siap untuk ikut Aksi 212. Tapi saya tidak mau mengajak mereka bertiga kalu tidak dapat izin dari kedua orang tuanya, lantas saya suruh mereka berdua untuk minta izin terlebih dahulu.

Setelah Mereka minta izin kepada orang tuanya, Idrus (adik kedua) tidak di izinkan oleh kedua orang tuanya dengan alasan dia masih kecil dan suka muntah di mobil.

Budi Minta Izin

Kalau Budi beda lagi, awalnya dia tidak diizinkan sama kedua orang tuanya, terus Budi menghubungi saya, dengan hati gelisah Budi mengabarkan bahwa dia tidak dapat izin dari orang tuanya.

pas itu saya tanya sama dia “kamu benar-benar mau ikut gak”

kata budi “ia mau, kan udah saya bilang kalu saya mau banget ikut Aksi 212, walaupun nanti ada apa-apa saya siap menghadapinya. Tapi gimana ya orang tua tidak mengizinkan?”

Lantas saya bilang “coba dah nanti biar saya yang ngobrol sama oran tua kamu”

Pas saya telpon ibunya Budi, dengan obrolan yang agak sedikit lama akhirnya Teh. Apiah (ibunya Budi) mengizinkan. Tapi dia bilang, “mungkin saya mengizinkan namun tidak tau dengan bapaknya apakah mengizinkan apa tidak”.

lantas saya jawab, “ya kalau masalah bapaknya mah saya serahkan kepada Teh. Apiah, coba nanti teteh jelaskan saja apa yang sudah saya jelaskan kepada teteh.”

Setelah dua hari saya tunggu jawabannya, ternyata kedua Orang Tua Budi mengizinkan Budi untuk ikut serta di Aksi 212.

Kanta Minta Izin

Tinggal Kanta (adik pertama) yang belum ada jawabannya, apa dia sudah diiznkan apa belum. Waktu itu dia putus kontak karena jarang punya pulsa katanya.

Dari pada menunggu tanpa kepastian, saya langsung menghubunginya, setelah saya hubungi dan dia menerima telpon dari saya, lantas Kanta bilang “saya mah tidak perlu izin, karena saya udah yakin kedua orang tua saya mengizinkan”

Sigap saya bilang “kamu tidak boleh kaya gitu, bagaianpun kamu harus tetap izin, karena izin dari orang tua itu penting”.

Gak tau kenapa, kayaknya dia susuah banget utuk minta izin, akhirnya saya sendiri yang minta izin kepada ibunya mengenai keinginan Kanta yang mau ikut Aksi 212 dan alhamdulilah diizinkan.

Oya, asal kamu tau kedua Orang Tua Kanta dan Idrus, itu juga orang tua saya. karena kita bertiga bersaudara.

Akhirnya kami bertiga dan Semua Santri Al-Amanah ikut serta dalam Aksi Super Damai Bela Islam Jilid III atau bisa juga di sebut Aksi 212.

Catatan

poetriapriani.blogspot.co.id

Perasaan yang kami rasakan adalah terharu melihat jutaan manusia berkumpul dalam satu waktu dan satu tempat, dengan satu keinginan yaitu penjarakan Ahok si penista agama.

Lebih pentingnya lagi, menunjukkan kepada dunia bahwa Umat Islam Indonesia bisa bersatu dan akan tetap bersatu. muda-mudahan persatuan ini akan abadi demi menegakkan kebenaran di negri kita tercinta ini amin.

Stop untuk saling mengkafirkan sesama Muslim karena cuma masalah berbeda dalam hal Furu’iah

Stop panatisme organisasi.

Agama kita satu yaitu Islam.

Pedoman hidup kta sama yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.

Jangan sampai kita salah membidik orang, kawan dikira lawan, lawan dijadikan kawan.

Selama Rukun Iman dan Islam kita sama, kita semua adalah saudara.

 

 

COPY CODE SNIPPET

Tinggalkan komentar